Bencana Tanah Gerak di Tegal dan Semarang Ribuan Pengungsi Terdampak
Table of content:
Pergerakan tanah atau tanah gerak di Kabupaten Tegal dan Kota Semarang, Jawa Tengah, saat ini masih berlangsung pada sejumlah lokasi. Peristiwa ini telah menyebabkan dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat, mengganggu kehidupan sehari-hari dan memicu kepanikan di kalangan warga yang terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, fenomena ini masih aktif hingga saat ini. Jumlah pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah juga terus bertambah, mencapai lebih dari 2.000 jiwa.
Di Kota Semarang, pergerakan tanah terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, yang mengakibatkan belasan rumah mengalami kerusakan dan akses jalan menuju Universitas Diponegoro terputus. Kondisi ini menambah permasalahan bagi warga yang harus mencari alternatif jalan untuk beraktivitas sehari-hari.
Fenomena Tanah Gerak di Kota Semarang: Dampak dan Penanganan
Lurah Jangli, Maria Teresia Takndare, mengonfirmasi bahwa fenomena tanah gerak di daerah tersebut mulai terjadi sejak Kamis (5/2) dan Jumat (6/2). Hujan deras yang terjadi secara terus-menerus selama beberapa pekan menjadi alasan utama di balik pergerakan tanah ini.
Masyarakat yang terkena dampak meminta bantuan agar dapat direlokasi, mengingat mereka merasa terancam untuk terus tinggal di atas tanah yang tidak stabil. Kebanyakan dari mereka sudah khawatir dan memilih untuk mengosongkan rumah dan membawa barang-barang ke tempat lebih aman.
Pada Senin (9/2), beberapa warga terlihat mengevakuasi barang-barang yang ada di dalam rumah mereka. Sementara itu, yang lainnya berkumpul di lokasi pengungsian yang didirikan di musala terdekat, mengingat rumah mereka tidak lagi aman untuk dihuni.
Salah satu warga, Slamet Riyadi (47), mengaku bahwa rumahnya terancam dan penuh dengan retakan di berbagai sudut. Dia dan warga lainnya berharap pemerintah dapat segera mengambil tindakan untuk menyediakan lahan relokasi bagi mereka.
Harga harapan mereka sederhana: agar tidak merasa terjebak di tempat yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka. Slamet menjelaskan, dia merasa sebagai warga negara yang berhak mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah dalam situasi sulit seperti ini.
Dampak Tanah Gerak di Kabupaten Tegal: Realita di Lapangan
Sementara itu, di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tanah gerak masih terjadi dengan intensitas yang cukup tinggi. Warga mulai mengosongkan rumah dan memindahkan barang-barang untuk menghindari dampak yang lebih besar dari fenomena ini.
Kepala Desa Padasari, Mashuri, mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah terus berlangsung hingga Senin (9/2). Ia juga mengungkapkan bahwa dari data yang ada, sekitar 464 rumah terdampak dengan rincian kerusakan bervariasi dari berat hingga ringan.
Fasilitas umum seperti tempat ibadah, pendidikan, dan infrastruktur jalan juga mengalami kerusakan akibat tanah gerak. Pada awal pekan ini, diperkirakan jumlah rumah yang terdampak dapat bertambah, mengingat kondisi tanah yang masih labil.
Warga yang terdampak kini terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi aman, dan jumlah pengungsi sendiri mencapai 2.460 jiwa, terbagi dalam 596 kepala keluarga. Data tersebut menunjukkan dampak yang luas dari fenomena tanah gerak ini, baik bagi masyarakat maupun infrastruktur lokal.
Saat ini, tim dari BNPB dan pemerintah daerah setempat terus melakukan pemantauan dan penyaluran bantuan kepada para pengungsi. Langkah ini diambil untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dapat terpenuhi dengan baik, serta untuk meminimalisir dampak lebih lanjut dari pergerakan tanah.
Solusi Hunian Sementara bagi Korban Tanah Gerak
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, telah menyatakan komitmennya untuk menyediakan hunian sementara bagi warga yang terkena dampak di Desa Padasari. Dia memastikan bahwa hunian tetap yang dilengkapi dengan sertifikat kepemilikan akan disiapkan untuk para pengungsi yang kehilangan rumah mereka.
Dalam kunjungannya ke lokasi pengungsian, Ahmad menggarisbawahi pentingnya relokasi sebagai langkah utama, mengingat kawasan permukiman lama sudah tidak lagi layak untuk dihuni. Tim pemerintah berupaya memberikan solusi yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pengungsi.
Pemerintah daerah juga berencana untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat pergerakan tanah. Anggaran dan sumber daya tampaknya menjadi kendala, tetapi upaya untuk memulihkan keadaan menjadi prioritas utama.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah, diharapkan kondisi para pengungsi dapat segera membaik, dan mereka bisa kembali ke kehidupan yang normal. Masyarakat sangat berharap agar situasi ini tidak terulang di masa yang akan datang.
Berbagai langkah diambil untuk mencegah terulangnya bencana serupa, termasuk perbaikan sistem drainase dan pengelolaan resapan air di area yang berisiko. Ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga keselamatan masyarakat dan lingkungan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









