Aceh Utara Kembali Menyandang Status Tanggap Darurat Bencana
Table of content:
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, yang terletak di Provinsi Aceh, telah kembali menetapkan status darurat bencana akibat banjir yang melanda daerah tersebut. Kejadian ini disebabkan oleh hujan deras yang terus menerus serta meluapnya sungai-sungai, yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Melihat situasi yang semakin memburuk, langkah untuk mengembalikan status ini diambil setelah sebelumnya sempat memasuki fase pemulihan. Dalam konteks ini, penanganan yang cepat dan efisien menjadi sangat krusial untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh bencana ini.
Status tanggap darurat yang ditetapkan akan berlaku selama 14 hari, hingga 24 Januari 2026. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak bencana yang sudah memasuki fase kritis dan membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah serta masyarakat.
Keputusan Pemerintah dalam Menanggulangi Banjir yang Terjadi di Aceh Utara
Menurut Plt Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan banjir susulan yang cukup meluas. Koordinasi dengan pihak berwenang dan evaluasi kondisi di lapangan telah dilakukan untuk memastikan langkah-langkah penyelamatan dapat berjalan secara efektif.
Kesepakatan untuk kembali ke status tanggap darurat diambil dengan tujuan agar upaya penyelamatan dan penanganan bencana dapat dilakukan secara maksimal. Dinamika perubahan cuaca dan meningkatnya intensitas hujan memang memerlukan pendekatan yang lebih adaptif dari pihak berwenang.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di lokasi rawan banjir dan dekat dengan bantaran sungai. Dalam situasi demikian, partisipasi masyarakat juga sangat penting untuk meminimalisir risiko terjadinya korban jiwa.
Dampak Banjir Terhadap Masyarakat dan Lingkungan Sekitar
Badai banjir yang melanda Aceh Utara telah menyebabkan banyak kerugian bagi masyarakat. Dari data yang diperoleh, diketahui banyak rumah yang rusak dan jumlah pengungsi pun mencapai ribuan jiwa.
Menurut informasi terakhir, terdapat 19.047 orang yang harus mengungsi dan lebih dari 46.000 unit rumah yang dilaporkan rusak. Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa dampak dari bencana ini sangat besar dan memerlukan intervensi yang cepat.
Kehilangan total dari hasil panen dan kerugian lainnya juga perlu dicatat. Banjir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat yang bergantung pada pertanian dan aktivitas ekonomi di daerah tersebut.
Kerusakan Sektor Pertanian Akibat Banjir yang Terjadi di Aceh
Bencana yang terjadi pada akhir November 2025 ini berimbas pada sektor pertanian, khususnya pada perkebunan kopi. Data menunjukkan bahwa sekitar 13.083 hektar kebun kopi mengalami kerusakan parah.
Aceh Tengah dan Bener Meriah merupakan dua daerah yang terdampak paling parah. Di Aceh Tengah, lebih dari 12.600 hektar kebun kopi dilaporkan rusak, sementara di Bener Meriah tercatat sekitar 445 hektar.
Lahan-lahan yang rusak tersebar di 14 kecamatan, dengan Kecamatan Pegasing menjadi yang terparah. Kerusakan ini diyakini akan berdampak panjang terhadap pendapatan petani dan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







