Korban Keracunan MBG Mencapai 8649 Anak per 27 September 2025
Table of content:
Pelaksanaan program Makanan Bergizi (MBG) di Indonesia mengalami berbagai tantangan yang tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada kualitas pendidikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya beberapa masalah fundamental yang perlu segera diatasi agar program ini dapat berjalan efektif dan sesuai dengan harapan masyarakat.
Di antara masalah utama yang teridentifikasi adalah rendahnya pemahaman gizi dan pangan di kalangan masyarakat. Hal ini berimplikasi negatif pada menu yang disajikan dalam program, yang sering kali tidak memperhatikan variasi sumber daya pangan lokal yang ada.
Selain itu, terdapat juga tantangan terkait struktur kepemimpinan dalam Badan Gizi Nasional (BGN) yang seharusnya dipimpin oleh para ahli gizi dan pangan. Sayangnya, dominasi purnawirawan militer dalam struktur kepemimpinan justru mengakibatkan keputusan yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat.
Pentingnya Pemahaman Gizi untuk Masyarakat
Pemahaman yang kurang mendalam tentang konsep gizi sehat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan program MBG. Ketidakpahaman ini mengakibatkan menu yang disajikan menjadi monoton dan tidak bervariasi.
Pemerintah seharusnya memberikan edukasi yang lebih intensif mengenai pentingnya gizi seimbang. Tanpa upaya tersebut, masyarakat tetap akan terjebak dalam pola makan yang tidak sehat, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas generasi mendatang.
Kualitas gizi tidak hanya dipengaruhi oleh jenis makanan, tetapi juga oleh cara penyajian dan makanan yang lokal. Pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kekurangan dalam program ini.
Struktur Kepemimpinan dalam Program Makanan Bergizi
Struktur kepemimpinan yang tidak sesuai dengan dasar keahlian menyebabkan kebijakan yang diambil cenderung tidak efektif. BGN, sebagai lembaga penggagas program gizi, seharusnya dipimpin oleh individu yang memahami seluk-beluk gizi dan pangan.
Meski kehadiran purnawirawan militer mungkin bertujuan untuk efisiensi, tetapi hal ini cenderung mengabaikan aspek teknis dan akademis yang adalah fondasi penting dalam pengelolaan gizi. Akibatnya, penelitian dan praktik yang berbasis bukti menjadi terabaikan dalam proses pengambilan keputusan.
Perubahan struktural yang mengedepankan keahlian profesional dalam manajemen gizi diharapkan dapat mengembalikan fungsi BGN untuk mencapai tujuan program secara optimal.
Partisipasi Sekolah dan Masyarakat dalam Program MBG
Sekolah sering kali hanya dilihat sebagai objek dari pelaksanaan MBG, tanpa melibatkan peran aktif dalam perencanaan dan pengelolaan. Padahal, partisipasi dari sekolah dan masyarakat dapat memperkuat pelaksanaan program ini.
Minimnya transparansi dalam pelaksanaan program membuat banyak pihak merasa terasing dan tidak memiliki kendali atas bagaimana program tersebut dijalankan. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat sangat penting untuk menciptakan akuntabilitas dan transparansi yang dibutuhkan.
Target kuantitas yang dikejar oleh pemerintah sering kali mengabaikan standar akuntabilitas, sehingga program memiliki risiko besar bagi keamanan dan keselamatan anak. Prioritas utama seharusnya adalah perlindungan terhadap anak, bukan semata-mata memenuhi angka statistik.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







