RAPBN 2026 Dibahas Paripurna 23 September dengan Nilai Rp 3,8 Triliun
Table of content:
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, mengungkapkan bahwa DPR dan pemerintah telah mencapai kesepakatan untuk membawa Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 ke sidang paripurna yang dijadwalkan pada tanggal 23 September. Keputusan ini diambil dalam rapat kerja yang berlangsung pada 18 September 2026, menandai langkah penting dalam proses perencanaan anggaran negara.
Said Abdullah menyatakan bahwa total belanja negara pada RAPBN 2026 direncanakan mencapai Rp 3.842,7 triliun. Laporan ini juga mencakup rincian pendapatan negara yang diperkirakan sebesar Rp 3.153,6 triliun serta defisit anggaran sebesar Rp 689,1 triliun, yang menjadi bagian dari strategi fiskal pemerintah untuk memenuhi berbagai kebutuhan program nasional.
Detail dan Rincian Penting Dalam RAPBN 2026
Said menjelaskan bahwa rincian anggaran disusun dengan mempertimbangkan prioritas kebutuhan nasional. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam penyusunan RAPBN, sehingga masyarakat dapat memahami alokasi anggaran dan kebijakan fiskal yang diambil. Setiap komponen dalam belanja negara diharapkan dapat menjawab tantangan pembangunan yang ada.
Penyesuaian belanja negara merupakan bagian dari langkah strategis untuk memastikan bahwa program-program yang terencana dapat diimplementasikan dengan efektif. Fokus utama tetap pada kesejahteraan masyarakat dan pengembangan daerah, termasuk daerah otonomi khusus dan daerah istimewa.
DPR berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan alokasi anggaran setelah disetujui. Dalam proses ini, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, sangat penting untuk memastikan bahwa kebutuhan setiap daerah terpenuhi secara adil dan proporsional.
Menjawab Tantangan Ekonomi Nasional Melalui Anggaran
Dalam konteks kondisi ekonomi global yang fluktuatif, RAPBN 2026 akan dijadikan sebagai instrumen untuk merespons berbagai tantangan. Said mengingatkan bahwa ekonomi nasional harus tetap mampu tumbuh meski ada berbagai tekanan eksternal. Oleh karena itu, penyusunan anggaran ini harus fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan dunia.
Pemerintah berusaha untuk mengalokasikan anggaran pada sektor-sektor yang dapat menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja. Sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur menjadi fokus utama, dengan harapan dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
Penyusunan anggaran juga mempertimbangkan prioritas pembangunan berkelanjutan dengan memfokuskan pada isu-isu seperti perubahan iklim dan ketahanan pangan. Dengan mengintegrasikan kebijakan lingkungan dalam rencana anggaran, diharapkan dapat tercipta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Pentingnya Keterlibatan Semua Pihak Dalam Proses Anggaran
Keberhasilan implementasi RAPBN 2026 sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, DPR, dan masyarakat. Said menyatakan bahwa partisipasi publik dalam proses penganggaran akan meminimalisir kesalahan dan memastikan allokasi yang tepat. Publik memiliki hak untuk mengetahui dan memberi masukan terhadap penggunaan anggaran negara.
Pihak DPR juga membuka saluran diskusi untuk melibatkan masyarakat dalam penyusunan program-program yang terkait dengan anggaran. Keterbukaan informasi dan komunikasi dua arah diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan publik terhadap legitimitas proses anggaran ini.
Melalui langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi objek dari kebijakan anggaran, tetapi juga subjek yang aktif dalam pengawasan dan penentuan prioritas pembangunan. Ini merupakan langkah penting menuju pembangunan yang inklusif dan partisipatif.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







