Lebih Melelahkan Akting Nangis atau Marah-Marah dalam Film Kuyank?
Table of content:
Film horor terbaru berjudul Kuyank yang disutradarai dengan cermat, menghadirkan sebuah kisah penuh emosi dan konflik yang menggugah pemikiran. Dalam film ini, Ochi Rosdiana berperan sebagai Fauziah, seorang gadis asal Kalimantan Selatan yang memiliki perjalanan emosional yang mendalam saat mengejar impiannya di Surabaya.
Kisah bermula ketika Fauziah pindah ke Jawa Timur tidak hanya untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga untuk melupakan badboy yang dicintainya, Badri. Dia terpaksa menghadapi kenyataan pahit ketika Badri menikah dengan orang lain, meninggalkan Fauziah dalam keadaan terpuruk dan penuh harapan yang hampa.
Seiring berjalannya waktu, Fauziah berusaha untuk moving on meskipun sangat sulit baginya untuk melupakan. Cerita dimulai saat ia kembali ke kampung halamannya untuk menghadapi tawaran mengejutkan yang mengubah segalanya, ditawari untuk menjadi istri kedua Badri.
Konflik dan Emosi dalam Peran Ochi Rosdiana
Ochi Rosdiana mengalami banyak tantangan dalam memerankan Fauziah, karakter yang kompleks dan penuh emosi. Karakter ini memerlukan Ochi untuk memahami psikologi wanita yang terjebak dalam dilema moral dan emosional yang mendalam.
“Adanya momen di mana Fauziah harus menangis di tengah obrolan yang awalnya ceria membuat tantangan ini semakin intens,” ujar Ochi, menunjukkan betapa dinamisnya emosi yang harus ia sampaikan. Setiap adegan mengharuskan Ochi untuk beradaptasi secepatnya, mengendalikan perasaannya untuk menyampaikan cerita dengan baik.
Menggambarkan perasaan sedih dan bahagia dalam satu waktu, Ochi harus melakukannya dengan halus tanpa mengekspos emosi yang sebenarnya di depan penonton. “Menjaga agar penonton tidak bisa menebak kapan saya akan menangis adalah tantangan tersendiri,” jelasnya.
Akting Menangis atau Marah, Mana yang Lebih Sulit?
Mengenai tantangan dalam dunia akting, Ochi Rosdiana mengungkapkan bahwa keduanya, menangis dan marah, adalah pengalaman yang melelahkan. “Setiap emosi memiliki intensitas yang sama, dan itu memerlukan konsentrasi serta penghayatan yang mendalam,” ujarnya.
Ia pun menekankan bahwa akting bukan hanya soal perasaan yang terlihat dari luar, melainkan juga bagaimana cara menyampaikannya secara subtil. Ketika menangis, dia harus bisa menyentuh hati penonton, sedangkan saat marah, dia perlu membangkitkan ketegangan.
Pengalaman ini tidak hanya membentuk Ochi sebagai aktris, tetapi juga memperkaya kemampuannya dalam beradaptasi dengan banyak peran yang berbeda. Ia merasa setiap film adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi.
Konflik Manusia Dalam Cerita Horor
Film Kuyank tidak hanya menampilkan elemen horor yang terlihat dari hantu, tetapi lebih jauh lagi menjelajahi konflik interpersonal antara karakter. Hal ini termasuk hubungan antara mertua dan menantu, serta pertikaian antara suami dan istri.
Bersama rekan mainnya, Putri Intan, Ochi menekankan bahwa ketakutan bisa timbul dari kebodohan dan kesalahpahaman manusia, bukan hanya dari hal-hal supernatural. “Film ini menunjukkan bahwa sering kali, faktor paling menakutkan adalah konflik dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Putri.
Dalam konteks film, elemen horor muncul dari keputusan yang salah dan konsekuensi yang harus ditanggung setiap karakter. Karakter-karakter dalam film Kuyank memperlihatkan betapa rumitnya hubungan manusia dan bagaimana satu keputusan dapat menimbulkan masalah besar.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







